Skip to main content
Real Madrid Harus Lakukan 5 Hal untuk Kembali Juara

Real Madrid Harus Lakukan 5 Hal untuk Kembali Juara

Pada bursa transfer musim panas saat ini, Real Madrid sama sekali tidak melakukan apa-apa. Zinedine Zidane tidak melakukan membeli pemain bintang baru dalam skuadnya untuk membuat Real Madrid kembali juara, meski bursa transfer musim panas akan segera berakhir.

 

Baca Juga : Bandar Taruhan Judi Bola Online Terpercaya

 

Mengingat gelar juara yang berhasil di musim 2016/17 akan menjadi beban seperti Juara Champions League, Juara Liga Spanyol dan Piala Super Eropa. Maka pencinta sepakbola akan menunggu di musim 2017/18, bagaimana Real Madrid kembali juara di Champions League dan La Liga.

 

Berdasarkan ESPN FC ada 5 hal yang harus dilakukan CR7 dan kawan-kawan, sehingga Real Madrid kembali juara di musim mendatang.

  1. Juara bertahan

Setiap orang pasti setuju, lebih mudah mencapai puncak di banding mempertahankan gelar juara. Terutama setelah mereka berhasil mematahkan dominasi dari Barcelona di tahun 2008, dengan begitu ancaman terbesar untuk Real Madrid kembali juara datang dari rival mereka.

Maka Christiano Ronaldo harus berusaha, menjaga piala La Liga tetap berada di Santiago Bernabeu. Namun Ernesto Valverde tidak akan membiarkan itu terjadi, mereka akan berusaha merebut gelar juara La Liga musim 2017/18. Sementara dari pihak manajemen El Real dan fans, mereka ingin Real Madrid kembali juara.

  1. Lebih bersabar

Walaupun Real Madrid musim lalu berhasil menjadi club jawara di beberapa kompetisi besar, mereka tidak boleh lengah di musim 2017/18. Pasalnya ke pelatihan dari Zinedine Zidane masihlah baru, sehingga masih belum teruji.

Zidane memang berhasil membawa beberapa tropi ke Santiago Bernabeu di 16 bulan ke pelatihannya, namun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diperhatikan. Selain menjadikan Real Madrid kembali juara, perang bintang antar club harus dihadapi dengan kesabaran ekstra.

Perbedaan visi antara Florentino Perez presiden club dengan Zinedine Zidane, ketika manajer ini melakukan promosi pemain muda ke dalam skuad utama Real Madrid, presiden justru menjual pemain tersebut. Padahal investasi terbesar sebuah club, terdapat pada pemain muda yang di didik.

  1. Menang dalam setiap El Clasico

Salah satu yang menjadi jalan untuk Real Madrid kembali juara, dengan meraih kemenangan setiap pertandingan El Clasico melawan rivalnya, Barcelona. Hal ini bisa memutuskan dominasi skuad Catalan, serta membuat skuad Los Merengues lebih percaya diri.

  1. Perbanyak goal

Pada musim 2016/17 El Real kalah produktivitas goal dari El Barca, di tambah mereka kehilangan 2 pemain bintang James Rodriguez dan Alvaro Moratta. Maka Zidane mulai membidik Kylian Mbappe sebagai solusi, demi mengungguli produktivitas goal dari Barcelona dan menjadikan Real Madrid kembali juara di La Liga 2017/18.

  1. Kebahagiaan Zidane menjadi kunci

Real Madrid berhasil di kompetisi Eropa dan Spanyol, merupakan bagian dari kerja keras Zinedine Zidane. Legenda El Real dan team Nasional Prancis ini berhasil gemilang sebagai pelatih, meski dia hanya berstatus asisten pelatih.

Pelatih berdarah Aljazaer ini memiliki motivasi, profesionalisme dan kejeniusan yang ditularkan ke dalam anak asuhnya. Selain itu di bawah kepemimpinannya dia berhasil meredam ego beberapa pemain bintang, seperti Ronaldo yang mau dicadangkan dalam beberapa laga yang sebelumnya tidak pernah berhasil oleh pelatih lain

Fabregas Memberi Kontribusi Besar Bagi 3 Klub Yang Pernah Ia Bela

Fabregas Memberi Kontribusi Besar Bagi 3 Klub Yang Pernah Ia Bela

powermadness.com – Cesc Fabregas mungkin merupakan salah satu pemain sepakbola tersukses di era ini meski tidak pernah terlihat memiliki peran spektakuler di sebuah tim. Fabregas yang kini berumur 30 tahun telah menjalani karir yang sebenarnya luar biasa di 3 klub besar; ia juga telah mencatat 110 caps bersama tim nasional Spanyol dan memenangkan 3 gelar turnamen internasional. Fabregas merupakan pemain Spanyol yang mencetak 2 gol kemenangan pada adu penalti di 2 turnamen Piala Eropa pada tahun 2008 dan 2012. Fabregas juga merupakan pemain yang memberi assist bagi gol Andres Iniesta yang membawa Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010.

 

Fabregas datang ke Arsenal di usia 16 tahun setelah dibeli dari Barcelona; ia menjalani debut bersama Arsenal pada laga Charity Shield tahun 2004 dengan mengalahkan Manchester United. Fabregas disebut – sebut menjadi sosok pemain yang mampu membawa ide sepakbola sempurna seorang Arsene Wenger ke lapangan hijau. Fabregas telah mencatat 70 assist di Liga Primer Inggris selama 7 musim membela Arsenal. Sayang sang pemain memutuskan untuk kembali ke Barcelona meski memperlihatkan performa sangat baik di musim terakhirnya bersama Arsenal di tahun 2011. Sayang kepulangan Fabregas di Barcelona tidak berbuah manis bagi sang pemain karena kesulitan bersaing dengan Xavi Hernandez, Andres Iniesta dan Sergio Busquets. Meski pihak Barcelona menyebut keputusan menjual Fabregas karena kontribusi yang terus menurun; peman tersebut sukses mencatat 42 gol dari 151 pertandingan yang dijalani dan sempat memenangkan 6 tropi selama 3 musim membela La Blaugrana.

 

Chelsea menjadi pilihan Fabregas ketika kembali ke Inggris meski banyak suporter Arsenal sangat berharap ia kembali ke klub yang membesarkannya. Manajer Jose Mourinho menyebut Fabregas dapat menjadi pemain yang memberi dimensi lain bagi permainan Chelsea. Hal itu terbukti dari kontribusi Fabregas sebagai elemen kreatif Chelsea yang sukses menjadi juara Liga Primer Inggris 2 kali dalam 3 musim. Fabregas mencatat rekor 18 assist di musim 2014/15 saat membawa Chelsea menjadi juara Liga Primer Inggris. Musim ini Fabregas hanya bermain 10 kali sebagai starter; namun tetap menjadi pembuat assist terbanyak Chelsea di angka 9. Kini Fabregas merupakan pemain di peringkat kedua sebagai pembuat assist terbanyak di Liga Primer Inggris di bawah seorang Ryan Giggs.

Tottenham Hotspur Dikalahkan West Ham United 1 – 0 Di Stadion Olimpiade London

Tottenham Hotspur Dikalahkan West Ham United 1 – 0 Di Stadion Olimpiade London

Peluang Chelsea untuk menjadi juara Liga Primer Inggris musim ini semakin besar; terutama setelah Tottenham Hotspur yang menjadi pesaing terdekat harus menelan kekalahan 1 – 0 atas West Ham United. Jika Chelsea sukses mengalahkan Middlesbrough dan West Bromwich Albion di 2 laga mendatang; maka tim asuhan Antonio Conte tersebut dipastikan menjadi juara musim ini. Tottenham Hotspur gagal mempertahankan catatan bagus berupa 9 kemenangan di 9 laga terakhir setelah menelan kekalahan tersebut. Setelah sempat memangkas selisih poin dengan Chelsea dari 10 menjadi 4; kini Chelsea sepertinya akan kembali menambah jarak mengingat Tottenham Hotspur akan menghadapi Manchester United pada laga berikutnya.

 

Manuel Lanzini menjadi pahlawan kemenangan West Ham United setelah mencetak satu – satunya gol pada laga tersebut. Stadion Olimpiade London yang kini digunakan sebagai tempat menjalani laga kandang bagi West Ham United memang sering disebut memberi kesialan bagi Tottenham Hotspur agen sbobet. Kemenangan 1 – 0 tersebut diakhiri dengan teriakan gembira manajer Slaven Bilic saat wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. Sedangkan suporter West Ham United menyanyikan “I’m Forever Blowing Bubbles” dengan semangat tinggi yang jarang terdengar di musim ini. Tambahan 3 poin dari kemenangan atas rival kota London tersebut mengamankan West Ham United dari ancaman degradasi mengingat kini mereka naik ke peringkat 9 dengan perolehan 42 poin.

 

Tuan rumah West Ham United mengawali laga dengan baik; Lanzini dan Sam Byram sempat mendapatkan peluang melalui tendangan keras kaki kiri dan sundulan kepala. Tottenham Hotspur kemudian membalas dengan 3 peluang beruntun yang berhasil dimentahkan para pemain bertahan West Ham United. Ketegangan terjadi di menit 25 saat Lanzini berbenturan dengan Hugo Lloris. Kubu West Ham United menuntut hadiah tendangan penalti; namun wasit Anthony Taylor yang melihat Lloris menghalau bola terlebih dahulu sebelum berbenturan dengan Lanzini tidak menganggap kejadian tersebut sebagai pelanggaran. West Ham United baru memecah kebuntunan di menit 64 setelah memanfaatkan kelengahan lini belakang Tottenham Hotspur. Setelah beberapa kali gagal membuang bola; akhirnya bola jatuh ke kaki Lanzini yang mencetak gol dari jarak 6 yard.